Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

The Lost Boy by Dave Pelzer

Pernah enggak sih kamu merasa hidupmu gak nyaman dan gak menyenangkan? Rasanya hidup kamu tuh, kurang melulu, sedih melulu, sedangkan hidup orang lain kelihatannya serba mudah dan bahagia.

Saya pernah, dan sering merasa seperti itu. Apalagi kalau melihat orang lain bisa dengan mudah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Rasanya tuh, sebel. Tetapi kalau dicari tahu, ternyata perasaan iri seperti itu muncul dari hati yang dengki dan kurang bersyukur.

Kalau udah begitu, biasanya saya ngaji, cerita dan minta nasihat sama orang yang bisa dipercaya, mendengarkan cerita yang memotivasi, atau membaca. Tentunya membaca buku yang bikin pikiran saya adem, kayak true strory dalam buku ini:


Judul: The Lost Boy
Alih bahasa: Danan Priyatmoko
Tebal: 352 hlm.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kelima: Juni 2003

Untuk saya, buku adalah senjata paling ampuh untuk membunuh sepi. Membaca juga salah satu cara agar otak saya yang segede kacang polong kisut ini tetap bekerja.

Sinopsis:

Seorang anak tak pernah punya rumah. Yang dimilikinya cuma beberapa lembar pakaian usang dan kumal yang dibawanya ke mana-mana di dalam tas kertasnya. Dia selalu hidup dalam keterasingan dan ketakutan. Dia tak tahu apa yang diharapkan dari dirinya dan apa yang bisa dia harapkan dari lingkungannya. Dia sudah berhasil diselamatkan dari cengkeraman ibu kandungnya yang selalu menyiksanya selama bertahun-tahun, tetapi rentetan bahaya yang lebih nyata dan yang harus dihadapinya belum selesai,bahkan baru akan dimulai. 

Dia tak punya tempat yang bisa dirasanya sebagai rumah. Dia mendambakan cinta dalam keluarga.

***

Sebelumnya, saya pernah baca seri pertama buku Dave Pelzer di sini. Kalau yang belum tahu, biar nyambung, silakan baca dulu ya.

Entah sejak kapan saya mulai suka membaca buku serius seperti ini. Mungkin karena semakin tahun saya semakin dewasa, makanya selera buku bacaan saya juga berubah? Iya kayaknya.

Buku ini menceritakan kelanjutan hidup David Pelzer sejak umur 12-18 tahun. Masa setelah dia ke luar dari rumah ibu kandung yang galaknya ngalahin waria dilarang mangkal.

Kalau dibandingkan dengan buku pertamanya untuk saya—The Lost Boy ini  lebih menguras air mata. Apalagi saat David menceritakan kehidupan sekolahnya—saya gak pernah mengalami child abuse, tetapi pernah kesulitan punya teman dan sebagai seseorang yang pernah merasakan hal yang sama, perasaan saya teraduk-aduk sekali saat membacanya.

“...Aku begitu ingin disukai, diterima, oleh semua teman sekelasku, oleh semua murid di sekolah itu—oleh semua orang.” Hlm.34

Setelah ke luar dari rumah orang tuanya, David harus tinggal di penampungan tempat anak-anak kurang beruntung lainnya. Sebagai anak baru gede, yang sedang dalam masa pencarian jati diri, dan kurang kasih sayang, David beberapa kali melakukan kesalahan. Dia mengerjakan sesuatu yang salah hanya untuk “dianggap ada” oleh teman-temannya.

“...Sejak saat itu aku jadi anak yang tidak bisa berdiam diri. Aku berlarian ke segala penjuru rumah, seolah-olah celanaku terbakar. Aku melucu, tertawa, dan berteriak girang, meluapkan perasaan sendirian dan kesepian yang kualami selama bertahun-tahun.” Hlm. 40-41

Dan, puncak kesalahan terbesar David adalah ketika dia dituduh menjadi tersangka pembakaran sekolah. Dia jatuh semakin jauh dalam kehidupan yang tidak menyenangkan, kehilangan kepercayaan, terombang-ambing saat mencari orang tua asuh, ditambah trauma yang belum hilang. Ancaman terburuk bagi dirinya adalah—Mamaknya yang beringas kayak singa betina PMS bisa mengambil hak asuhnya kembali.

“Aku tahu kelakuanku buruk sehingga aku memang pantas dihukum, tetapi aku berjanji—belah dadaku, aku mati kalau tidak memenuhi janjiku—aku akan berkelakuan baik. Betul-betul baik....” Hlm. 204

Kokoro saya pediiih baca kalimat itu. Semua itu terjadi karena David tumbuh sebagai anak yang kurang kasih sayang. Saya jadi paham betapa pentingnya sosok orang tua bagi anak. Kasih sayang orang tua ternyata amat-sangat-penting-sekali buat kelangsungan hidup anak. Buku ini juga menyinggung beberapa peraturan dan hukum soal pengasuhan anak.
Tetapi sayangnya,  gak dijelaskan di sini kenapa Ibu David bisa sakit. Mungkin, akan dijelaskan dalam seri ketiga. Tetapi saya belum nemu bukunya. :(

Dari buku ini saya juga belajar bahwa bahagia itu gak akan tiba-tiba datang, kita mungkin bukan manusia yang terlahir dari keluarga yang sempurna dan memiliki hidup serba menyenangkan, tetapi bukan berarti Tuhan pelit untuk membagi keberuntungan.

“...Sementara anak-anak lain bermain bola di jalanan atau berjalan-jalan di mall, aku menjadi anak yang mampu mencukupi kebutuhanku sendiri.” Hlm. 258

Untukku, kamu, dan siapapun yang selalu merasa hidupnya tidak bahagia, tidak beruntung, serba kekurangan, saat kita menginginkan hidup seperti orang lain, bisa jadi ada orang yang justru menginginkan hidup seperti kita.

Ah, saya baper.


Senin, 04 April 2016

A Child Called “It”: Ketika Ibu Tak Ingin Jadi Surgamu


Ya ampun judul tulisan saya panjang banget kayak leher jerapah! Oke, saya mau serius ah, soalnya buku yang saya bahas ini juga buku serius. Jadi yang ngatain saya cuma bisa baca teenlit drama queen sama manga doang, nih saya baca buku serius! Masa saya dikatain suka baca manga yaoi? Kan kampret!

Judul: A Child Called “It” (True Story)
Penulis: Dave Pelzer
Tebal: 184 hlm.
Alih Bahasa: Danan Priatmoko
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Mei 2001
Cetakan ke enam April 2003

Buku ini terbit di Amerika tahun 1995. Dicetak pertama kali di Indonesia tahun 2001, dan buku yang saya pegang ini adalah cetakan ke enamnya pada bulan April 2003.

Berarti buku ini sudah berumur tiga belas tahun.

Tiga belas tahun yang lalu, saya masih umur enam tahunan jadi jangan ngatain saya ketinggalan zaman karena baru baca buku ini ya. Hehehe.

A Child Called “It” adalah buku pertama yang saya baca tahun 2016 ini dan saya mendapatkan buku ini dari penjual buku bekas beberapa bulan lalu.

Buku ini menceritakan tentang perjuangan hidup seorang bocah bernama David Pelzer yang mengalami penyiksaan oleh ibunya. Yes, oleh ibu kandungnya. Seorang ibu, yang seharusnya menjadi orang paling hangat dan melindungi, bagi David Pelzer justru ibunyalah sumber segala kesakitannya, ketakutannya. Ibunya seperti sosok monster tak punya hati yang tak segan menyiksa, memaki, menjadikan budak, bahkan memperlakukan dirinya lebih hina daripada hewan.

Anjing peliharaan ibunya, memiliki hidup yang lebih baik daripada David!

Sungguh terlalu~

“...aku merasa tidak punya alasan lagi untuk melakukan sesuatu dalam hidup ini, termasuk mengalihkan kesedihanku pada tugas-tugas sekolah.” (Hlm. 8.)

Setiap pagi, David kecil harus memulai kegiatannya dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang sebaiknya dikerjakan oleh orang dewasa. Umurnya bahkan belum genap 12 tahun, namun mau tidak mau dia harus melakukan pekerjaan itu. Karena jika tidak, David tidak akan mendapat jatah makan.

Hidupnya menyedihkan. Sangat-sangat menyedihkan. Dalam masa pertumbuhannya, alih-aih mendapatkan makanan yang bergizi, dia bahkan sering tidak mendapatkan makanan sama sekali.

Apa penyiksaan yang dialami David oleh ibu kandungnya hanya sebatas tidak diberi makan? Tentu saja tidak! Banyak siksaan yang dia alami sampai dia mendapatkan luka-luka di tubuhnya, tidur di basement tanpa tempat tidur yang layak, terpaksa mencuri bekal makanan teman sekolahnya karena kelaparan, saudara-saudara yang tidak peduli, dan ... yang lebih menyakitkan adalah Ayah―sosok orang yang dia harapkan menjadi pahlawannya tidak bisa melakukan apapun meski dia mengetahui penyiksaan yang dialami David.

David tidak tahu apa salahnya, mengapa ibunya bersikap lebih kejam dari Nenek Lampir kepadanya. Dia bahkan hanya dianggap “It”, sesuatu, nothing, tidak berarti apa-apa bagi ibunya. 

Semua orang menjauhinya. Teman-teman di sekolahnya menjauhi David karena bekal makanannya sering dicuri, belum lagi pakaiannya yang usang dan bau tubuhnya yang tidak sedap membuat siapapun tidak akan tahan berada di dekat anak tidak terurus ini.

Meski begitu, David merasa hidupnya lebih baik ketika di sekolah. Karena kehidupan di rumahnya bahkan lebih buruk daripada di neraka.

Ada banyak penyiksaan yang dialami David―yang mungkin tidak pernah terbayangkan sama sekali olehmu, ada orang yang berpikiran untuk menyiksa manusia dengan cara seperti itu. 

Saya yakin deh, kokoro kamu akan retak membaca buku ini. Kamu mungkin tidak akan berhenti mengutuk Ibunda David yang kejam, atau bahkan berharap bisa jadi pahlawan yang akan menyelamatkan David dari kehidupannya yang menyedihkan.

Buku ini full of pain,  tetapi saya yakin, jika kamu meresapi pesan dari buku ini dengan baik, kamu akan lebih banyak bersyukur pada hidup yang (sebelumnya) sering kamu keluhkan ini. Hehehe.

Tidak banyak qoutes  yang saya dapatkan dari buku ini. Cara penuturan penulis dalam buku ini sederhana sekali, belum lagi paragrafnya panjang-panjang dan hampir bikin mata saya juling. Hahaha. Tetapi ada dua potongan kalimat yang paling saya suka:

1.“Seburuk apapun masa laluku itu, aku jadi tahu bahwa hidupku sepenuhnya terserah padaku.” (Hlm. 146.)

2.“Aku harus menjadi yang terbaik sesuai kemampuanku.” (Hlm. 146)

Oh ya, buku ini hanya menceritakan kehidupan David Pelzer aka Dave Pelzer sejak umur 4 sampai 12 tahun. Tidak dijelaskan mengapa Ibunya David bersikap sejahat itu. Buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian trilogy Dave Pelzer. Buku keduanya berjudul The Lost Boy, akan saya bahas nanti kalau bukunya sudah sampai di tangan saya. : )

***