Senin, 04 April 2016

A Child Called “It”: Ketika Ibu Tak Ingin Jadi Surgamu


Ya ampun judul tulisan saya panjang banget kayak leher jerapah! Oke, saya mau serius ah, soalnya buku yang saya bahas ini juga buku serius. Jadi yang ngatain saya cuma bisa baca teenlit drama queen sama manga doang, nih saya baca buku serius! Masa saya dikatain suka baca manga yaoi? Kan kampret!

Judul: A Child Called “It” (True Story)
Penulis: Dave Pelzer
Tebal: 184 hlm.
Alih Bahasa: Danan Priatmoko
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Mei 2001
Cetakan ke enam April 2003

Buku ini terbit di Amerika tahun 1995. Dicetak pertama kali di Indonesia tahun 2001, dan buku yang saya pegang ini adalah cetakan ke enamnya pada bulan April 2003.

Berarti buku ini sudah berumur tiga belas tahun.

Tiga belas tahun yang lalu, saya masih umur enam tahunan jadi jangan ngatain saya ketinggalan zaman karena baru baca buku ini ya. Hehehe.

A Child Called “It” adalah buku pertama yang saya baca tahun 2016 ini dan saya mendapatkan buku ini dari penjual buku bekas beberapa bulan lalu.

Buku ini menceritakan tentang perjuangan hidup seorang bocah bernama David Pelzer yang mengalami penyiksaan oleh ibunya. Yes, oleh ibu kandungnya. Seorang ibu, yang seharusnya menjadi orang paling hangat dan melindungi, bagi David Pelzer justru ibunyalah sumber segala kesakitannya, ketakutannya. Ibunya seperti sosok monster tak punya hati yang tak segan menyiksa, memaki, menjadikan budak, bahkan memperlakukan dirinya lebih hina daripada hewan.

Anjing peliharaan ibunya, memiliki hidup yang lebih baik daripada David!

Sungguh terlalu~

“...aku merasa tidak punya alasan lagi untuk melakukan sesuatu dalam hidup ini, termasuk mengalihkan kesedihanku pada tugas-tugas sekolah.” (Hlm. 8.)

Setiap pagi, David kecil harus memulai kegiatannya dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang sebaiknya dikerjakan oleh orang dewasa. Umurnya bahkan belum genap 12 tahun, namun mau tidak mau dia harus melakukan pekerjaan itu. Karena jika tidak, David tidak akan mendapat jatah makan.

Hidupnya menyedihkan. Sangat-sangat menyedihkan. Dalam masa pertumbuhannya, alih-aih mendapatkan makanan yang bergizi, dia bahkan sering tidak mendapatkan makanan sama sekali.

Apa penyiksaan yang dialami David oleh ibu kandungnya hanya sebatas tidak diberi makan? Tentu saja tidak! Banyak siksaan yang dia alami sampai dia mendapatkan luka-luka di tubuhnya, tidur di basement tanpa tempat tidur yang layak, terpaksa mencuri bekal makanan teman sekolahnya karena kelaparan, saudara-saudara yang tidak peduli, dan ... yang lebih menyakitkan adalah Ayah―sosok orang yang dia harapkan menjadi pahlawannya tidak bisa melakukan apapun meski dia mengetahui penyiksaan yang dialami David.

David tidak tahu apa salahnya, mengapa ibunya bersikap lebih kejam dari Nenek Lampir kepadanya. Dia bahkan hanya dianggap “It”, sesuatu, nothing, tidak berarti apa-apa bagi ibunya. 

Semua orang menjauhinya. Teman-teman di sekolahnya menjauhi David karena bekal makanannya sering dicuri, belum lagi pakaiannya yang usang dan bau tubuhnya yang tidak sedap membuat siapapun tidak akan tahan berada di dekat anak tidak terurus ini.

Meski begitu, David merasa hidupnya lebih baik ketika di sekolah. Karena kehidupan di rumahnya bahkan lebih buruk daripada di neraka.

Ada banyak penyiksaan yang dialami David―yang mungkin tidak pernah terbayangkan sama sekali olehmu, ada orang yang berpikiran untuk menyiksa manusia dengan cara seperti itu. 

Saya yakin deh, kokoro kamu akan retak membaca buku ini. Kamu mungkin tidak akan berhenti mengutuk Ibunda David yang kejam, atau bahkan berharap bisa jadi pahlawan yang akan menyelamatkan David dari kehidupannya yang menyedihkan.

Buku ini full of pain,  tetapi saya yakin, jika kamu meresapi pesan dari buku ini dengan baik, kamu akan lebih banyak bersyukur pada hidup yang (sebelumnya) sering kamu keluhkan ini. Hehehe.

Tidak banyak qoutes  yang saya dapatkan dari buku ini. Cara penuturan penulis dalam buku ini sederhana sekali, belum lagi paragrafnya panjang-panjang dan hampir bikin mata saya juling. Hahaha. Tetapi ada dua potongan kalimat yang paling saya suka:

1.“Seburuk apapun masa laluku itu, aku jadi tahu bahwa hidupku sepenuhnya terserah padaku.” (Hlm. 146.)

2.“Aku harus menjadi yang terbaik sesuai kemampuanku.” (Hlm. 146)

Oh ya, buku ini hanya menceritakan kehidupan David Pelzer aka Dave Pelzer sejak umur 4 sampai 12 tahun. Tidak dijelaskan mengapa Ibunya David bersikap sejahat itu. Buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian trilogy Dave Pelzer. Buku keduanya berjudul The Lost Boy, akan saya bahas nanti kalau bukunya sudah sampai di tangan saya. : )

***

12 komentar:

  1. Ya aku harus menjadi lebih baik dan itu semua tergantung padaku.
    Masa lalu kecilku jangan sampai terulang pada anak keturunanku.
    Woih mana bukunya, pinjam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau rumahnya om cuma berjarak sepelemparan batu, saya pinjemin deh. Hehe.

      Hapus
  2. aku harus menjadi yang terbaik sesuai kemampuanku, kutipan ini mantep ya... Diangkat dari kisah nyata ya?.. Iya donggg mana bukunya, saya juga pinjeeemmmm hehehehe :)

    BalasHapus
  3. Ya ampun...ternyata mbak Lulu masih berumur 19 tahun...pantesan masih unyu-unyu..hehe

    BalasHapus
  4. Kasihan nasib Si David ya..kok tega ibunya berbuat seperti itu...apakah ibunya ibu tiri?

    BalasHapus
  5. Wah..sayang ya, kenapa nggak dijelaskan musabab kekejaman ibunya. Itu ibu kejam kemungkinan besar tidak kejam begitu saja tapi ada masa lalu yang tidak selesai. Hihi, mestinya protesnya ke penulisnya ya mbak ^_^

    BalasHapus
  6. kalau buku ini sama yang buku satunya lagi sebenernya mirip mirip kah ?
    Latar belakang nya sama sama tentang ibu yang jahat

    BalasHapus